![]() |
| Love stupid |
Berbicara tentang cinta Eric Fromm, seorang filsuf dan juga psikolog sosial mendefinisikan cinta dengan begitu indah. Dalam bukunya, Seni Mencintai dia pernah mengatakan bahwa, “cinta adalah suatu tindakan, bukan suatu kekuatan pasif. Cinta berarti ‘bertahan di dalam’ bukan ‘jatuh.’ Karakter aktif dari cinta adalah memberi bukan menerima.” Pernyataannya itu dengan indah menyatakan bahwa cinta adalah suatu perasaan yang membuat diri kita bertindak untuk memberi secara aktif.
Namun dewasa ini, aku benar-benar muak dengan orang-orang yang menganggap cinta hanyalah untuk dua anak manusia yang ternyata hanya sedang dimabuk hormon.
Cinta hari ini dapat kita lihat di mana saja, dapat kita rasa di mana saja, terbentang dalam layar kaca, majalah, buku, lagu dan lain sebagainya.
Tapi apa yang aku bingungkan, adalah, mengapa orang-orang ini begitu terobsesi dengan cinta? Jean Paul Sartre, melemparkan argumen bahwa cinta adalah penindasan halus. Pernyataan Sartre benar tentang itu, lihat saja, seringkali kita rela melakukan apa pun demi menyenangkan pasangan sementara kita mesti tenggelam dalam kecemasan tentang bagaimana caranya membuat sebuah hubungan bertahan lama.
Bahkan kadang kita rela menjadi asing untuk diri sendiri hanya karena pasangan kita tidak menyukai gaya hidup atau cara berpikir kita, kita rela merubah itu semua deminya. Omong kosong macam apa itu, selain, terjebak dalam dunia orang lain?
Jacques Derrida bersama metode dekonstruksi-nya, menganggap bahwa orang yang jatuh cinta adalah narsis. Tentu saja, coba perhatikan, seseorang yang mengaku sedang jatuh cinta pasti membutuhkan perhatian dari pasangannya, hal ini dapat menjadi lebih gila jika seseorang tersebut ingin diakui sebagai prioritas utama dari pasangannya. Analisis Derrida ini mungkin bisa disambungkan dengan pemikiran Sartre tentang penindasan halus.
Satu hal yang dapat kita coba adalah, berpikir ulang. Mengapa kita begitu mudah untuk mengatakan cinta? Jika memang cinta itu sederhana, mengapa seseorang rela mengakhiri hidupnya hanya karena hubungan yang berakhir? Se-sederhana itukah kenyataan?
Ada satu penelitian menarik dari National Autonomous University of Mexico yang menyimpulkan bahwa hormon-hormon mendasar dari cinta seperti dopamine, norepinephrine, serotonin dan pheromone hanya dapat memercikkan energinya selama empat tahun. Setelah itu, hadirlah hormon oxytocin dan vasopressin yang memercikkan energinya melalui dorongan untuk melakukan seks atau ketergantungan secara emosional. Jadi menurutku, cinta mungkin memanglah sederhana, atau bahkan kosong, hanya saja orang-orang terlalu berlebihan menjalaninya.
Aku ingin mengakhirinya dengan pernyataan yang kubuat, mungkin sedikit bertemakan lelucon atas apa yang terjadi dewasa ini mengenai cinta. Jika Descartes, Camus, dan sindiran terhadap masyarakat konsumer sudah jauh lebih lama hadir diantara kita. Maka kita melupakan sesuatu, “Aku berpikir tentang cinta, lalu aku mencinta, berandai dan aku berontak untuk mendapatkannya, kemudian aku mengorbankan apa pun demi menjadi sosok yang dicinta. Jika aku melakukan semua itu dengan baik, maka aku ada.”
Dan diakhir hari, pertanyaan itu kembali datang, apa itu cinta?

0 Komentar