Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat - Bagian 1: "Jangan Berusaha"

Desain Oleh: Dede Alfin

Pernah nggak sih kamu merasa capek banget karena sibuk ngejar standar orang lain? Nah, di buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, Mark Manson ngajak kita untuk "jangan berusaha." Unik, kan? Biasanya kita selalu diajarkan buat usaha keras, tapi Manson justru bilang sebaliknya. Kok bisa?

Jangan Berusaha? Maksudnya Apa?

Di sini, "jangan berusaha" bukan berarti kita malas-malasan atau nggak ngapa-ngapain, ya. Manson mencoba ngasih perspektif baru: kadang, semakin kita berusaha keras untuk terlihat sukses, makin banyak beban yang kita angkat. Dan, anehnya, hal-hal yang kita usahakan banget ini malah jadi terasa kosong. Jadi, menurut Manson, semakin kita memaksa buat jadi "seseorang," semakin kita merasa nggak jadi apa-apa.

Misalnya nih, kita pengen banget kelihatan keren di media sosial atau di mata orang lain. Kita nge-post foto-foto keren, cerita pengalaman seru, dan lain-lain. Tapi, semakin sibuk kita mikirin cara kelihatan keren, makin kita sadar betapa kita ngerasa kosong saat nggak ada yang lihat. Di sinilah, Manson bilang kalau kita butuh "seni bodo amat."

Di bagian ini, Manson juga nyeritain kisah Charles Bukowski, seorang penyair dan novelis yang hidupnya jauh dari kata sempurna. Bukowski adalah sosok yang anti-mainstream, nggak cocok sama gambaran penulis sukses pada umumnya. Dia hidup miskin, sering mabuk, dan punya reputasi buruk karena gaya hidupnya yang anti-sosial.

Sebelum terkenal, Bukowski sudah mencoba berbagai pekerjaan, tapi selalu merasa gagal. Seringkali, dia mabuk dan nulis puisi di sela-sela kerja kantoran yang nggak dia suka. Uniknya, Bukowski nggak pernah ngoyo buat jadi terkenal. Bahkan ketika akhirnya dia dapat kesempatan menerbitkan bukunya, Bukowski tetap sederhana, bahkan dia meminta tulisan "Don’t try" atau "Jangan berusaha" di batu nisannya.

Ini yang jadi intinya: Bukowski nggak pernah mati-matian berusaha untuk sukses atau jadi "hebat." Dia tetap hidup seadanya dan nulis apa yang ada di pikirannya. Justru, karena sikap bodo amatnya inilah dia akhirnya diterima orang sebagai dirinya sendiri, tanpa harus berpura-pura.

Manson bukannya nyuruh kita hidup tanpa tujuan, tapi dia ngajak kita buat lebih peka sama apa yang bener-bener penting. Kenapa harus buang-buang energi mikirin semua hal kecil, padahal nggak semuanya penting? Menurutnya, kalau kita terlalu peduli sama semua hal, kita malah akan kehilangan fokus pada hal-hal yang sebenarnya kita hargai.

Dia ngajarin kita buat nggak usah terlalu sibuk ngejar validasi atau persetujuan orang lain. Justru, kita perlu selektif dalam memilih hal-hal yang pantas untuk diperjuangkan.

Jadi, Harusnya Gimana?

Pesan Manson sederhana: kurangin usaha yang nggak perlu. Coba pikirin deh, mana hal yang bener-bener penting buat kita? Apakah kita terlalu ngoyo buat hal-hal yang nggak bikin kita bahagia?

Di bagian ini, Manson kayak ngasih wake-up call buat kita semua. Kita diajak untuk milih "perjuangan" kita sendiri, dan belajar untuk bodo amat dengan hal-hal yang nggak terlalu berharga. Kisah Bukowski ini jadi pengingat bahwa terkadang, menerima diri sendiri dan ngelakuin apa yang kita suka—bahkan tanpa berharap apa-apa—bisa jadi cara paling jujur untuk merasa cukup.

Bagian pertama dari Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat ini ngajak kita untuk berpikir ulang tentang hidup kita. Mungkin hidup jadi lebih ringan kalau kita nggak terus-menerus berusaha jadi yang terbaik di mata orang lain, tapi fokus sama hal-hal yang beneran berarti buat kita. Kadang, ketika kita berhenti terlalu peduli, justru di situlah kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya.

Posting Komentar

0 Komentar